Energi panas bumi atau geothermal merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Indonesia. Tanah air kita berada dalam Cincin Api Pasifik, sehingga menyimpan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Potensi ini tidak hanya menjanjikan kemandirian energi, tetapi juga menjadi solusi strategis bagi transisi energi rendah karbon. Namun demikian, pemanfaatan geothermal tidak terlepas dari tantangan kebijakan energi yang kompleks. Artikel ini akan mengulas peran geothermal dalam kebijakan energi nasional serta langkah-langkah untuk mengoptimalkannya.
Potensi Geothermal di Indonesia
Indonesia diperkirakan memiliki potensi geothermal mencapai lebih dari 28.000 MW, yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua. Jika dimanfaatkan secara optimal, geothermal mampu memenuhi persentase besar kebutuhan listrik nasional. Keunggulan utama geothermal dibandingkan dengan sumber energi fosil adalah:
- Ramah lingkungan – Emisi gas rumah kaca jauh lebih rendah.
- Kontinyu dan stabil – Tidak bergantung pada cuaca seperti energi surya atau angin.
- Energi domestik – Mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Potensi ini menjadikan geothermal sebagai aset strategis bagi pencapaian target energi terbarukan dalam bauran energi nasional (Energy Mix).
Peran Geothermal dalam Kebijakan Energi Nasional
Indonesia menargetkan peningkatan porsi energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Untuk mencapai target ini, geothermal menjadi komponen penting karena karakteristiknya yang andal dan berkelanjutan.
Dalam kebijakan energi jangka panjang, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah peraturan yang mendukung pengembangan geothermal, termasuk:
- Peraturan Menteri ESDM mengenai insentif fiskal dan pembiayaan sektor panas bumi.
- Skema tarif listrik khusus untuk energi terbarukan.
- Kemudahan perizinan di kawasan panas bumi.
Kebijakan ini bertujuan menarik investasi dan mempercepat pengembangan lapangan geothermal di berbagai daerah.
Tantangan Kebijakan dan Regulasi
Meskipun kebijakan sudah mulai mendukung, masih terdapat sejumlah tantangan yang menghambat percepatan pengembangan geothermal: https://geotermicapilosur.com/
- Biaya eksplorasi yang tinggi
Eksplorasi geothermal membutuhkan investasi awal yang besar tanpa jaminan pasti akan menemukan sumber energi yang layak komersial. - Regulasi lahan dan izin
Banyak wilayah dengan potensi geothermal berada di area hutan lindung atau kawasan konservasi, sehingga prosedur perizinan menjadi lebih rumit dan memakan waktu. - Model pembiayaan dan risiko investasi
Ketidakpastian risiko teknis membuat investor enggan menanam modal. Meski ada insentif, kurangnya skema penjaminan risiko masih menjadi kendala utama. - Infrastruktur pendukung yang belum merata
Wilayah potensial geothermal sering berada di lokasi terpencil sehingga membutuhkan pembangunan jaringan infrastruktur listrik dan akses transportasi.
Peluang Inovasi Kebijakan
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah bersama pelaku industri dapat mengevaluasi dan memperbaharui kebijakan melalui inovasi kebijakan, antara lain:
- Skema pembagian risiko pemerintah–swasta (Public–Private Partnership)
Menciptakan insentif yang lebih menarik bagi investor, termasuk jaminan terhadap risiko teknis eksplorasi. - Harmonisasi regulasi lintas sektor
Menyederhanakan perizinan antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Energi Sumber Daya Mineral agar tidak tumpang tindih. - Penetapan harga listrik geothermal yang kompetitif
Dengan struktur tarif yang lebih adil, proyek geothermal menjadi lebih bankable (layak secara finansial). - Program pelatihan dan penciptaan tenaga ahli lokal
Mengembangkan sumber daya manusia di daerah geothermal sehingga menciptakan multiplier effect pada sektor ekonomi lokal.
Kontribusi Geothermal terhadap Ketahanan Energi
Pemanfaatan geothermal dapat meningkatkan ketahanan energi nasional dengan:
- Mengurangi fluktuasi harga listrik yang bergantung pada harga komoditas minyak dan gas.
- Memperluas akses listrik ke daerah terpencil yang kurang terlayani.
- Mengurangi emisi karbon, sejalan dengan komitmen Indonesia pada Perjanjian Iklim (Paris Agreement).
Dengan demikian, geothermal bukan hanya sekadar alternatif energi, tetapi menjadi elemen strategis dalam transformasi energi Indonesia menuju net zero emission.
Geothermal memiliki peran penting dalam mewujudkan kebijakan energi nasional yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berdaya saing global. Potensi besar yang dimiliki Indonesia harus diimbangi dengan kebijakan yang proaktif, inovatif, dan kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Hanya melalui sinergi kebijakan yang tepat, energi panas bumi dapat dimaksimalkan untuk meneguhkan kedaulatan energi Indonesia di masa depan.