Perspektif Berbeda Tentang “Who Killed the Internet”: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kerusakan Dunia Maya?

Photo of author

By gejawe4214

Internet telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, menghubungkan orang dari berbagai belahan dunia, menyediakan informasi dalam hitungan detik, serta memberikan berbagai peluang ekonomi, pendidikan, dan sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak yang mulai merasakan adanya perubahan yang signifikan dalam cara internet digunakan, diakses, dan dikendalikan. Fenomena ini bahkan melahirkan berbagai teori dan spekulasi tentang siapa atau apa yang sebenarnya “membunuh” internet seperti yang kita kenal dulu. Dalam artikel ini, kita akan membahas perspektif berbeda tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas perubahan besar dalam dunia maya. https://whokilledtheinternet.com/

1. Monopoli oleh Raksasa Teknologi

Salah satu perspektif utama mengenai siapa yang “membunuh” internet adalah dominasi perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook, Amazon, dan Microsoft. Banyak orang percaya bahwa dengan menguasai hampir seluruh ekosistem digital, perusahaan-perusahaan ini telah mengubah internet menjadi tempat yang lebih terpolarisasi dan terkendali. Mereka mengumpulkan data pribadi pengguna, memanipulasi algoritma untuk keuntungan finansial, dan cenderung memonopoli akses informasi. Dalam pandangan ini, internet yang dulu bebas dan terbuka kini telah menjadi area yang dikendalikan oleh beberapa perusahaan besar yang hanya memikirkan keuntungan mereka.

Contoh nyata dari fenomena ini adalah munculnya filter bubble dan ekosistem tertutup yang ada di platform media sosial. Pengguna Facebook, misalnya, hanya melihat konten yang relevan dengan pandangan mereka, yang memperburuk polarisasi sosial dan politik. Algoritma yang digunakan oleh platform-platform ini juga sering kali dipandang sebagai “penjaga” dari informasi yang disebarkan, mengarah pada hilangnya keragaman pandangan dan sumber informasi yang bebas.

2. Privasi dan Keamanan Pengguna

Perspektif lainnya menyoroti masalah privasi dan keamanan pengguna sebagai faktor yang mengancam keberlanjutan internet. Seiring dengan meningkatnya jumlah data pribadi yang dikumpulkan oleh berbagai layanan online, banyak yang merasa bahwa internet telah kehilangan unsur privasi yang dulu ada. Skandal seperti Cambridge Analytica, di mana data pengguna Facebook digunakan tanpa izin untuk memanipulasi hasil pemilu, menambah ketidakpercayaan publik terhadap platform online.

Menurut pandangan ini, internet tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi individu untuk mengekspresikan diri atau mencari informasi tanpa takut data pribadi mereka disalahgunakan. Keamanan data yang semakin buruk, penyebaran malware, dan peretasan yang kian canggih juga memperburuk citra internet sebagai tempat yang aman dan dapat dipercaya.

3. Regulasi dan Censorship Pemerintah

Di sisi lain, ada juga perspektif yang menyalahkan pemerintah dan kebijakan regulasi yang ketat atas perubahan wajah internet. Banyak negara, terutama yang memiliki rezim otoriter, telah mulai memberlakukan kontrol ketat terhadap apa yang dapat diakses oleh warganya di dunia maya. Pembatasan akses ke situs web tertentu, sensor konten, dan pelarangan aplikasi seperti TikTok atau WhatsApp adalah contoh nyata dari pengaruh pemerintah terhadap kebebasan berekspresi di internet.

Di negara-negara yang memiliki kebijakan internet yang sangat ketat, seperti Cina dengan “Great Firewall”-nya, atau Rusia dengan kontrolnya atas media sosial, internet tidak lagi menjadi ruang terbuka bagi percakapan dan pertukaran ide. Sebaliknya, internet diubah menjadi alat kontrol sosial yang kuat, di mana informasi dibatasi dan disaring demi kepentingan politik.

4. Perubahan dalam Budaya Pengguna

Ada juga pandangan bahwa “kematian” internet yang terbuka dan bebas ini lebih terkait dengan perubahan dalam perilaku pengguna itu sendiri. Pengguna internet saat ini lebih cenderung mengandalkan platform besar dan layanan terpusat untuk hampir segala hal, mulai dari hiburan, belanja, hingga komunikasi sosial. Keberadaan aplikasi seperti Netflix, Instagram, dan YouTube telah mengubah cara kita mengakses informasi dan hiburan. Pengguna lebih banyak menghabiskan waktu di platform-platform ini dibandingkan menjelajahi internet secara bebas dan terbuka.

Selain itu, kurangnya literasi digital juga berkontribusi pada hilangnya kemampuan pengguna untuk memahami cara kerja internet dan algoritma di baliknya. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap informasi palsu, penipuan, dan manipulasi konten, yang semuanya menurunkan kualitas pengalaman online secara keseluruhan.

5. Keuntungan Korporasi atas Kebebasan Inovasi

Sebagian pihak juga berpendapat bahwa internet “dibunuh” oleh dorongan untuk mengejar keuntungan di atas kebebasan berinovasi. Banyak inovasi di dunia maya yang dulu dimulai dengan semangat kolaborasi dan eksperimen bebas kini terhenti atau dibatasi oleh kebijakan bisnis yang fokus pada profitabilitas. Investasi besar dalam infrastruktur, pengiklanan, dan pengumpulan data telah menciptakan sistem yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek ketimbang pengembangan teknologi yang lebih mendalam dan bermanfaat untuk pengguna.

Kesimpulan

“Who Killed the Internet” adalah pertanyaan kompleks yang tidak bisa dijawab hanya dengan satu perspektif. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap perubahan cara kita menggunakan internet, dari dominasi perusahaan besar dan kebijakan pemerintah hingga perubahan dalam perilaku pengguna itu sendiri. Sebagai pengguna, kita harus tetap sadar akan peran kita dalam menjaga integritas dan kebebasan internet agar dapat terus berfungsi sebagai alat yang memberdayakan masyarakat dan bukan justru mengekangnya.

Leave a Comment